Minggu, 24 Januari 2016

TIPE KRITIK ARSITEKTUR & PENGGUNAAN SALAH SATU TIPE KRITIK DALAM MENGKRITIK BANGUNAN


I.                   Definisi Kritik Arsitektur
Kritik arsitektur merupakan tanggapan dari hasil sebuah pengamatan terhadap suatu karya arsitektur. Disitu orang merekam dengan berbagai indra kelimanya kemudian mengamati,memahami dengan penuh kesadaran dan menyimpannya dalam memori dan untuk ditindaklanjuti dengan ucapan dalam bentuk pernyataan,ungkapan dan penggambaran dari benda yang diamatinya.

II.                Metode Kritik Arsitektur
1.      Kritik Normatif
ciri kritik normatif ini mempunyai standar nilai berupa; doktrin,sistem,tipe atau ukuran. doktrin bisa jadi sebgai pujian atau sebaliknya,sedangkan sistem bisa menyangkut lebih luas pemaknaannya karena ada saling sangkut paut antara komponen yang satu dengan komponen yang lain. Contoh kritik normatifnya "sistem" versi Vitruvius, dia memandang sebuah bangunan adalah pengubah iklim,pengubah perilaku,pengubah budaya,pengubah sumber daya.
2.   Kritik Penafsiran
kritik ini biasanya bersifat subyektif tidak didasarkan pada data / pedoman baku dari luar, untuk memperhalus kritik salah satunya menggunakan analogi-analogi. hasilnya akan meningkatkan emosi bagi pendengar setelah itu terpengaruh atau menolak. Jika ada penolakan dari pendengar maka akan timbul kritik evokatif ( pembelaan ).
3. Kritik Deskriptif
ciri-ciri kritik deskriptif, tidak menilai,tidak menafsirkan namun yang terpenting menggambarkan sesuatu yang ada, tanpa ada tambahan-tambahan yang mengaburkan.
4.Kritik Biografi
Kritik ini didasari oleh kehidupan arsitek,klien,pembangunan (kontraktor) serta dampak mereka pada hasil akhir. Dan kebiasaannya mengemukakan fakta-fakta dan pengaruhnya.
5.Kritik Kontektual
kontektual yang berhubungan dengan dunia luar, berupa tekanan-tekanan / peristiwa-peristiwa ekonomi,politik, atau antarpersonal sehingga akan mempengaruhi rancangan serta faktor produksi
III.             Penelitian
1.      Metode
Metode yang digunakan dalam peneliian kritik arsitektur ini adalah metode “Deskriptif”. Sebagai metode kritik deskriptif menuntut adanya penjelasan berdasarkan bukti bukti fakta yang ada di lapangan.
2.      Objek
Objek yang dipilih adalah sebuah villa penginapan yang berada di puncak bernama villa d’thanasya. Objek ini dipilih karena keunikan bentuknya yang menerupai rumah adat khas Manado

IV.             Kritik Objek
1.      Definisi objek
Villa d’Thanasya merupakan salah satu villa komersil yang memiliki tema Rumah Panggung khas Kota Manado. Villa ini berada di Megamendung, Puncak Bogor, Jawa Barat. Bangunan ini berfungsi sebagai Villa komersil yang dapat disewakan harian maupun mingguan. Kepemilikan bangunan ini adalah personal sehingga menurut info penjaga villa bahwa bangunan ini merupakan ide dari pemilik villa itu sendiri yang berasal dari Kota Manado.



 





 
                                  

2.       Proses Kritik
2.1 Pilar
Bangunan ini merupakan bentukan bangunan rumah panggung. Seperti layaknya rumah panggung lainnya, rumah bagian utama berada di bagian atas bangunan, dan bagian bawah merupakan bagian sekunder bangunan. Namun ada beberapa kekurangan yang terjadi pada bangunan ini, salah satunya yaitu bagian pilar bagian bawah bangunan yang menopang bagian atas.










Gambar 1.2 PLAFON KAYU












Sumber : Data Pribadi
 
 
















Pilar ini terbuat dari kayu dan berukuran relative kecil. Untuk seukuran bangunan seluas hamper 100m2 ini pilar kayu kurang meyakinkan untuk menopang beban bagian atas bangunan yang juga memiliki fungsi utama.

2.2   Tangga
Tangga merupakan hal wajib bagi suatu bangunan yang memiliki elevasi lebih dari 1 lantai. Terlebih lagi bangunan ini merupakan bangunan rumah panggung yang berarti untuk mencapai ruang utama dibutuhkan tangga untuk mencapainya.














Gambar 1.2 Tangga Kayu
Sumber : Data Pribadi
 
 
Pada bangunan ini terdapat beberapa akses tangga, untuk bagian depan terdapat 2 akses dan pada bagian belakang terdapat 1 akses, namun pembuatan tangga ini memiliki beberapa kekurangan yaitu pemasangannya yang kurang kokoh. Ini dapat membahayakan calon penghuni ketika menaiki tangga.

2.3   Plafon
Tema Natural yang banyak mengandung unsur kayu didalamnya mendukung keadaan alam sekitar yang berada di daerah Puncak, namun ada salah satu aspek bangunan yang kurang cocok dipakai pada bangunan ini yaitu plafon kayu susun.













Gambar 1.2 PILAR KAYU.
Sumber : Data Pribadi
 
 









Material kayu yang mem punyai sifat menyerap suhu dapat menguntungkan bagi pemilik bangunan, karena suhu yang dingin di daerah sekitar. Namun efek dingin itu hanya terasa pada malam hari saja, pada siang hari material ini menyerah suhu panas dari luar sehingga ruangan terasa panas.
2.4   Dinding
Sama halnya dengan plafon, dinding pada bangunan ini juga memakai material kayu susun. Ini digunakan agar bangunan lebih terlihat natural dan pemanfaatan kelebihan material sebagai penyerap suhu agar bangunan lebih ekonomis dalam pemakaian listrik terutama pendingin ruangan.









   
 Gambar 1.5 Dinding Kayu.
Sumber : Data Pribadi
 
 
Lagi-lagi kekurangan terjadi pada siang hari, material ini menyerap suhu panas dari luar dan membuat suhu anas tetap berada di dalam ruangan sehingga pada siang hari sangat dibutuhkan pendingin ruangan agar terasa lebih nyaman.

3.       Kesimpulan

Dari beberapa kriteria diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa pemasangan/pembuatan rumah panggung knock down dengan bahan kayu ini belum efisien sepenuhnya dari segi fungsi maupun estetikanya, perlu di perbaiki dari segi fungsi untuk beberapa elemen yang disebutkan diatas agar bangunan terasa lebih nyaman ketika dalam pemakaian.


KRITIK ARSITEKTUR DESKRIPTIF

KRITIK DESKRIPTIF

Definisi
Bersifat tidak menilai, tidak menafsirkan, atau semata-mata membantu orang melihat apa yang sesungguhnya ada. Kritik ini berusaha mencirikan fakta-fakta yang menyangkut sesuatu lingkungan tertentu. Dibanding metode kritik lain kritik deskriptif tampak lebih nyata (factual).
Deskriptif mencatat fakta-fakta pengalaman seseorang terhadap bangunan atau kota.
Lebih bertujuan pada kenyataan bahwa jika kita tahu apa yang sesungguhnya suatu kejadian dan proses kejadiannya maka kita dapat lebih memahami makna bangunan.
Lebih dipahami sebagai sebuah landasan untuk memahami bangunan melalui berbagai unsur bentuk yang ditampilkannya.
Tidak dipandang sebagai bentuk to judge atau to interprete. Tetapi sekadar metode untuk melihat bangunan sebagaimana apa adanya dan apa yang terjadi di dalamnya.

Metode
1. Depictive Criticism (Gambaran bangunan)
Depictive cenderung tidak dipandang sebagai sebuah bentuk kritik karena ia tidak didasarkan pada pernyataan baik atau buruk sebuah bangunan. Sebagaimana tradisi dalam kritik kesenian yang lain, metode ini menyatakan apa yang sesungguhnya ada dan terjadi disana. Masyarakat cenderung memandang dunia sesuai dengan keterbatasan pengalaman masa lalunya, maka melalui perhatian yang jeli terhadap aspek tertentu bangunan dan menceritakan kepada kita apa yang telah dilihat, kritik depiktif telah menjadi satu metode penting untuk membangkitkan satu catatan pengalaman baru seseorang. Kritik depiktif tidak butuh pernyataan betul atau salah karena penilaian dapat menjadi bias akibat pengalaman seseorang di masa lalunya. Kritik depiktif lebih mengesankan sebagai seorang editor atau reporter, yang
menghindari penyempitan atau perluasan perhatian terhadap satu aspek bangunan agar terhindar dari pengertian kritikus sebagai interpreter atau advocate.

Static (Secara Grafis)
Depictive criticism dalam aspek static memfocuskan perhatian pada elemen-elemen, bentuk (form), bahan (materials) dan permukaan (texture). Penelusuran aspek static dalam depictive criticism seringkali digunakan oleh para kritikus untuk memberi pandangan kepada pembaca agar memahami apa yang telah dilihatnya sebelum menentukan penafsiran terhadap apa yang dilihatnya kemudian. Penggunaan media grafis dalam depictive critisim dapat dengan baik merekam dan mengalihkan informasi bangunan secara non verbal tanpa kekhawatiran terhadap bias. Aspek static depictive criticism dapat dilakukan melalui beberapa cara survey antara lain : fotografi, diagram, pengukuran dan deskripsi verbal (kata-kata).

Dynamic (Secara Verbal)
Tidak seperti aspek static, aspek dinamik depictive mencoba melihat bagaimana bangunan digunakan bukan dari apa bangunan di buat. Aspek dinamis mengkritisi bangunan melalui : Bagaimana manusia bergerak melalui
ruang-ruang sebuah bangunan? Apa yang terjadi disana? Pengalaman apa yang telah dihasilkan dari sebuah lingkungan fisik? Bagaimana bangunan dipengaruhi oleh kejadian-kejadian yang ada didalamnya dan disekitarnya?

Process (Secara Prosedural)
Merupakan satu bentuk depictive criticism yang menginformasikan kepada kita tentang proses bagaimana sebab-sebab lingkungan fisik terjadi seperti itu. Bila kritik yang lain dibentuk melalui pengkarakteristikan informasi yang datang ketika bangunan itu telah ada, maka kritik depiktif (aspek proses) lebih melihat pada langkah-langkah keputusan dalam proses desain yang meliputi :
o Kapan bangunan itu mulai direncanakan,
o Bagaimana perubahannya,
o Bagaimana ia diperbaiki,
o Bagaimana proses pembentukannya.

2. Biographical Criticism (Riwayat Hidup)
Kritik yang hanya mencurahkan perhatiannya pada sang artist (penciptanya), khususnya aktifitas yang telah dilakukannya. Memahami dengan logis perkembangan sang artis sangat diperlukan untuk memisahkan perhatian kita terhadap intensitasnya pada karya-karyanya secara spesifik.
Sejak Renaisance telah ada sebagian perhatian pada kehidupan pribadi sang artis atau arsitek dan perhatian yang terkait dengan kejadian-kejadian dalam kehidupannya dalam memproduksi karya atau bangunan. Misalnya, bagaimana pengaruh kesukaan Frank Lyod Fright waktu remaja pada permainan Froebel Bloks (permainan lipatan kertas) terhadap karyanya? Bagaimana pengaruh karier lain Le Corbusier sebagai seorang pelukis? Bagaimana pengaruh hubungan Eero Sarinen dengan ayahnya yang juga arsitek? Informasi seperti ini memberi kita kesempatan untuk lebih memahami dan menilai bangunan-bangunan yang dirancangnya.

3. Contextual Criticism ( Persitiwa)
Untuk memberikan lebih ketelitian untuk lebih mengerti suatu bangunan, diperlukan beragam informasi dekriptif, informasi seperti aspek-aspek tentang sosial, politikal, dan ekonomi konteks bangunan yang telah didesain. Kebanyakan kritikus tidak mengetahui rahasia informasi mengenai faktor yang mempengaruhi proses desain kecuali mereka pribadi terlibat. Dalam kasus lain, ketika kritikus memiliki beberapa akses ke informasi, mereka tidak mampu untuk menerbitkannya karena takut tindakan hukum terhadap mereka. Tetapi informasi yang tidak kontroversial tentang konteks suatu desain suatu bangunan terkadang tersedia.

Kelebihan Kritik Deskriptif
Dengan kritik deskriptif kita bisa mengetahui suatu karya hingga ke seluk beluknya. Metode dari deskriptif ini dapat di kritisi secara induktif, dari hal yang umum ke khusus ataupun deduktif dari hal yang khusus ke umum. Metode kritik ini tidak bertujuan untuk pengembangan karya selanjutnya seperti metode impresionis yang menggunakan hasil kritik untuk karya selanjutnya.