I.
Definisi Kritik Arsitektur
Kritik
arsitektur merupakan tanggapan dari hasil sebuah pengamatan terhadap suatu
karya arsitektur. Disitu orang merekam dengan berbagai indra kelimanya kemudian
mengamati,memahami dengan penuh kesadaran dan menyimpannya dalam memori dan
untuk ditindaklanjuti dengan ucapan dalam bentuk pernyataan,ungkapan dan
penggambaran dari benda yang diamatinya.
II.
Metode Kritik Arsitektur
1.
Kritik
Normatif
ciri kritik normatif ini mempunyai standar nilai berupa;
doktrin,sistem,tipe atau ukuran. doktrin bisa jadi sebgai pujian atau
sebaliknya,sedangkan sistem bisa menyangkut lebih luas pemaknaannya karena ada
saling sangkut paut antara komponen yang satu dengan komponen yang lain. Contoh
kritik normatifnya "sistem" versi Vitruvius, dia memandang sebuah
bangunan adalah pengubah iklim,pengubah perilaku,pengubah budaya,pengubah
sumber daya.
2. Kritik Penafsiran
2. Kritik Penafsiran
kritik ini biasanya bersifat subyektif tidak didasarkan pada
data / pedoman baku dari luar, untuk memperhalus kritik salah satunya menggunakan
analogi-analogi. hasilnya akan meningkatkan emosi bagi pendengar setelah itu
terpengaruh atau menolak. Jika ada penolakan dari pendengar maka akan timbul
kritik evokatif ( pembelaan ).
3. Kritik Deskriptif
3. Kritik Deskriptif
ciri-ciri kritik deskriptif, tidak menilai,tidak menafsirkan
namun yang terpenting menggambarkan sesuatu yang ada, tanpa ada
tambahan-tambahan yang mengaburkan.
4.Kritik Biografi
4.Kritik Biografi
Kritik ini didasari oleh kehidupan arsitek,klien,pembangunan
(kontraktor) serta dampak mereka pada hasil akhir. Dan kebiasaannya
mengemukakan fakta-fakta dan pengaruhnya.
5.Kritik Kontektual
5.Kritik Kontektual
kontektual yang berhubungan dengan dunia luar, berupa
tekanan-tekanan / peristiwa-peristiwa ekonomi,politik, atau antarpersonal
sehingga akan mempengaruhi rancangan serta faktor produksi
III.
Penelitian
1.
Metode
Metode yang digunakan dalam peneliian kritik arsitektur ini
adalah metode “Deskriptif”. Sebagai metode kritik deskriptif menuntut adanya
penjelasan berdasarkan bukti bukti fakta yang ada di lapangan.
2.
Objek
Objek
yang dipilih adalah sebuah villa penginapan yang berada di puncak bernama villa
d’thanasya. Objek ini dipilih karena keunikan bentuknya yang menerupai rumah
adat khas Manado
IV.
Kritik
Objek
1.
Definisi
objek
Villa d’Thanasya
merupakan salah satu villa komersil yang memiliki tema Rumah Panggung khas Kota
Manado. Villa ini berada di Megamendung, Puncak Bogor, Jawa Barat. Bangunan ini
berfungsi sebagai Villa komersil yang dapat disewakan harian maupun mingguan.
Kepemilikan bangunan ini adalah personal sehingga menurut info penjaga villa bahwa
bangunan ini merupakan ide dari pemilik villa itu sendiri yang berasal dari
Kota Manado.
2.
Proses Kritik
2.1 Pilar
Bangunan ini
merupakan bentukan bangunan rumah panggung. Seperti layaknya rumah panggung
lainnya, rumah bagian utama berada di bagian atas bangunan, dan bagian bawah
merupakan bagian sekunder bangunan. Namun ada beberapa kekurangan yang terjadi
pada bangunan ini, salah satunya yaitu bagian pilar bagian bawah bangunan yang
menopang bagian atas.
|
|
|||||
Pilar ini
terbuat dari kayu dan berukuran relative kecil. Untuk seukuran bangunan seluas
hamper 100m2 ini pilar kayu kurang meyakinkan untuk menopang beban bagian atas
bangunan yang juga memiliki fungsi utama.
2.2
Tangga
Tangga merupakan
hal wajib bagi suatu bangunan yang memiliki elevasi lebih dari 1 lantai.
Terlebih lagi bangunan ini merupakan bangunan rumah panggung yang berarti untuk
mencapai ruang utama dibutuhkan tangga untuk mencapainya.
|
|||||
Pada bangunan
ini terdapat beberapa akses tangga, untuk bagian depan terdapat 2 akses dan
pada bagian belakang terdapat 1 akses, namun pembuatan tangga ini memiliki
beberapa kekurangan yaitu pemasangannya yang kurang kokoh. Ini dapat
membahayakan calon penghuni ketika menaiki tangga.
2.3
Plafon
Tema Natural
yang banyak mengandung unsur kayu didalamnya mendukung keadaan alam sekitar
yang berada di daerah Puncak, namun ada salah satu aspek bangunan yang kurang
cocok dipakai pada bangunan ini yaitu plafon kayu susun.
|
|
|||||
Material kayu
yang mem punyai sifat menyerap suhu dapat menguntungkan bagi pemilik bangunan,
karena suhu yang dingin di daerah sekitar. Namun efek dingin itu hanya terasa
pada malam hari saja, pada siang hari material ini menyerah suhu panas dari
luar sehingga ruangan terasa panas.
2.4
Dinding
Sama
halnya dengan plafon, dinding pada bangunan ini juga memakai material kayu
susun. Ini digunakan agar bangunan lebih terlihat natural dan pemanfaatan
kelebihan material sebagai penyerap suhu agar bangunan lebih ekonomis dalam
pemakaian listrik terutama pendingin ruangan.
|
Lagi-lagi
kekurangan terjadi pada siang hari, material ini menyerap suhu panas dari luar
dan membuat suhu anas tetap berada di dalam ruangan sehingga pada siang hari
sangat dibutuhkan pendingin ruangan agar terasa lebih nyaman.
3.
Kesimpulan
Dari beberapa
kriteria diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa pemasangan/pembuatan rumah
panggung knock down dengan bahan kayu ini belum efisien sepenuhnya dari segi
fungsi maupun estetikanya, perlu di perbaiki dari segi fungsi untuk beberapa
elemen yang disebutkan diatas agar bangunan terasa lebih nyaman ketika dalam
pemakaian.

